akhir dari kematian
ketika hidup abadi hanya bisa dibeli oleh orang kaya
Pernahkah kita berandai-andai tentang dunia di mana kematian bukan lagi sebuah kepastian? Ribuan tahun lalu, kaisar pertama Tiongkok, Qin Shi Huang, sangat terobsesi dengan keabadian. Ia menelan pil yang terbuat dari merkuri karena percaya itu adalah elixir of life atau ramuan kehidupan. Ironisnya, racun itulah yang justru membunuhnya dengan cepat. Kita mungkin menertawakan kenaifan sang kaisar hari ini. Namun, obsesi yang sama sebenarnya tidak pernah mati. Ia hanya berevolusi.
Hari ini, para miliarder teknologi di Silicon Valley tidak lagi menelan merkuri. Mereka mendanai laboratorium mutakhir, mempekerjakan ahli genetika terbaik, dan berinvestasi miliaran dolar. Tujuannya tetap satu: membunuh kematian. Bagi mereka, kematian bukanlah takdir mistis yang harus diterima dengan pasrah. Kematian hanyalah bug atau kecacatan dalam sistem biologi tubuh manusia yang menunggu untuk di-debug. Pertanyaannya, jika mereka berhasil meretas kode keabadian ini, apakah dunia akan menjadi utopia? Atau justru, kita sedang melangkah menuju mimpi buruk yang sama sekali baru?
Mari kita lihat sains di baliknya sejenak. Dulu, kita berpikir penuaan adalah proses alami yang tidak bisa dicegah, seperti mobil yang perlahan berkarat. Namun, biologi modern berkata lain. Teman-teman mungkin pernah mendengar istilah senescent cells atau sel zombi. Ini adalah sel-sel tubuh kita yang sudah berhenti membelah, menolak untuk mati, dan malah mengeluarkan racun yang membuat sel sehat di sekitarnya ikut menua.
Di laboratorium, para ilmuwan telah berhasil menyingkirkan sel zombi ini pada tikus percobaan. Hasilnya mencengangkan. Tikus-tikus tua itu mendadak memiliki bulu yang lebat, ginjal yang berfungsi layaknya tikus muda, dan energi yang meluap-luap. Belum lagi riset tentang telomere, yaitu pelindung di ujung DNA kita yang menyusut setiap kali sel membelah. Sains kini sedang mencari cara agar ujung DNA ini tidak pernah menyusut. Bayangkan sebuah teknologi medis yang tidak hanya menghentikan penuaan, tapi memutarnya kembali. Sains keras (hard science) ini bukan lagi sekadar naskah film fiksi ilmiah. Ia sedang terjadi sekarang, di bawah mikroskop, di dalam ruang-ruang steril berteknologi tinggi. Keabadian biologis sudah terlihat di depan mata.
Namun, mari kita pikirkan hal ini bersama-sama. Jika secara biologis kita bisa hidup sampai 500 atau 1.000 tahun, apa yang akan terjadi pada psikologi kita? Manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh urgensi waktu. Kita bekerja keras, mencintai dengan sungguh-sungguh, dan menciptakan karya seni karena kita tahu waktu kita di bumi ini sangat terbatas. Jika deadline bernama kematian itu dihapus, apakah kita masih punya motivasi untuk bangun pagi? Jangan-jangan, kita malah akan menunda segala hal tanpa batas.
Tapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih mengganggu dari sekadar masalah motivasi. Pertanyaan yang membuat para sosiolog dan filsuf berkeringat dingin. Mari kita asumsikan pil anti-penuaan atau terapi peremajaan genetik ini akhirnya lolos uji klinis dan siap dipasarkan. Apakah terapi ini akan tersedia di puskesmas terdekat dengan harga subsidi? Sejarah medis memberi kita petunjuk yang suram. Pengobatan revolusioner selalu datang dengan harga yang fantastis. Di sinilah letak bom waktu yang sebenarnya sedang berdetak, menunggu untuk meledak dan mengubah struktur peradaban kita selamanya.
Inilah realitas pahit yang harus kita hadapi: kematian akan berubah wujud dari takdir biologis menjadi masalah finansial semata.
Bayangkan sebuah dunia di mana elit global dan para miliarder bisa membeli terapi peremajaan secara rutin. Mereka akan terlihat berusia 30 tahun selamanya. Mereka akan terus mengakumulasi kekayaan selama berabad-abad, tanpa pernah mewariskannya. Sementara itu, sisa umat manusia—orang-orang biasa seperti kita—tetap harus menua, sakit-sakitan, dan mati hanya karena saldo rekening kita tidak cukup untuk membayar tagihan rumah sakit. Di masa depan, kematian bukan lagi penyakit alami, melainkan penyakit orang miskin.
Dalam dunia sains, ada konsep bernama longevity escape velocity. Ini adalah titik di mana harapan hidup manusia bertambah lebih dari satu tahun untuk setiap tahun yang kita lewati, berkat kemajuan medis. Mereka yang mampu membayar akan masuk ke dalam kecepatan lepas ini, meninggalkan kita yang terjebak di bumi penuaan. Kita tidak lagi sekadar melihat kesenjangan kelas berupa siapa yang naik jet pribadi dan siapa yang naik angkutan umum. Kita akan menyaksikan perpecahan spesies. Antara manusia fana, dan dewa-dewa baru yang membeli keabadiannya dengan uang. Bayangkan betapa hancurnya hati kita saat harus melihat orang tua atau anak kita menua dan tiada, sementara tetangga kita yang sangat kaya sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-200 dengan wajah yang masih tak berkerut.
Pada akhirnya, obsesi umat manusia terhadap keabadian mungkin adalah sebuah bentuk penyangkalan terhadap kelemahan kita sendiri. Sebagai manusia, kita wajar merasa takut. Kematian adalah ruang gelap yang tidak kita ketahui isinya. Namun, mari kita renungkan sejenak. Bukankah kerentanan itulah yang justru membuat hidup ini menjadi sangat indah?
Waktu kita sangat berharga justru karena ia bisa habis. Keterbatasan itulah yang memaksa kita untuk memeluk orang yang kita cintai lebih erat hari ini, karena kita tidak tahu apakah esok masih ada. Jika keabadian hanya akan menciptakan dunia di mana kasih sayang dan kemanusiaan tergerus oleh keangkuhan finansial, mungkin kematian bukanlah musuh terburuk kita. Mungkin, tugas sejati kita bukanlah mencari cara untuk menambahkan waktu tanpa batas ke dalam kehidupan kita. Melainkan, bagaimana kita bisa menambahkan sebanyak mungkin kehidupan yang bermakna ke dalam sisa waktu kita yang terbatas ini.